Pahlawan Indonesia “Pierre A.Tendean”

Sahabat informasibelajar.com, sebelumnya kita sudah membahas salah satu pahlawan Indonesia yang berhasil menghasilkan sebuah karya berupa lagu – lagu indahnya. Ya, pahlawan Indonesia Ismail Marzuki. Seorang pengarang lagu halo-halo Bandung dan beberapa lagu yang lainnya.

Kali ini, informasibelajar.com akan menceritakan sejarah seorang tokoh pahlawan Indonesia Pierre A. Tendean. Tokoh yang ikut menghadapi masa – masa tersulit dari bangsa dalam menghadapi PKI.

Pierre A.Tendean

Tendean lahir di Jakarta, pada tanggal 21 Februari 1939. Seorang pemuda yang gagah, tampan dan pemberani, putra dari pasangan Dr.A.L Tendean dan Cornel ME.

Sebagai anak dari dokter, Tendean lebih tertarik pada dunia militer. Setelah lulus SMP dan SMA di Semarang, beliau mendaftarkan diri di Akademi Teknik Angkatan Darat yang disingkat dengan ATEKAD. ATEKAD berubah namanya menjadi Akademi Militer Jurusan Teknik atau Akmil Jurtek setelah beberapa tahun kemudian.

Taruna berprestasi berhasil disabet oleh Tendean karena minat dan kepandaiannya dalam militer. Kemudian, beliau diangkat menjadi Komandan Batalion Taruna dan Senat Korps Taruna.

Pangkat beliau sebagai seorang kopral taruna, menjadikan beliau mendapat tugas praktik lapangan di Sumatra. Tugas tersebut dalam kesatuan Zeni tempur yang pada saat itu sedang terjadi pemberontakan PRRI atau Permesta. Dan tugas behasil diselesaikan dengan baik.

Tendean lulus dari akademi militer, tahun 1962. Kemudian, memperoleh tugas sebagai Komandan Peleton Batalion Zeni Tempur 2 Kodam II/ Bukit Barisan, Medan. Beliau kemudian mengikuti pendidikan sekolah intelijen.

Tendean juga pernah disusupkan ke Malaysia. Meskipun demikian, pendidikan intelijen yang ditempuh, dapat ditunaikan dengan berhasil dan baik.

Tendean kemudian ditugaskan sebagai ajudan bagi Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan atau Kepala Staf Angkatan Bersenjata atau Menko Hankam/ Kasab Jenderal A.H. Nasution. Nasution merupakan daftar hitam perwira TNI-AD yang hendak disingkirkan oleh PKI.

Pada tanggal 1 Oktober 1965, PKI mendatangi rumah Jenderal Nasution yang sedang tidur. Tendean terbangun, ketika pasukan PKI berusaha menangkap atasannya. Tendean berusaha meyakinkan PKI bahwa dirinyalah merupakan A.H. Nasution.

PKI langsung mempercayai pernyataan Tendean tersebut. Hal tersebut disebabkan adanya kemiripan wajah dan kurangnya cahaya di pagi buta. Tendean kemudian dibawa pergi oleh pasukan PKI. Dalam peristiwa penculikan tersebut, putri Tendean, yaitu Ade Irma Suryani ditempak oleh PKI.

PKI membawa Tendean ke Lubang Buaya. Jenazah Tendean ditemukan 20 setelah penculikan di sumur tua bersama dengan jenazah pahlawan revolusi lainnya. Beliau wafat di Jakarta, 1 Oktober 1965 dan diberikan gelar pahlawan Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No.111/ KOTI/1965.

sumber:
Mahawira, P. 2013. Cinta Pahlawan Nasional Indonesia: Mengenal dan Meneladani. Jakarta: Wahyu Media.